Solusi BARATA Menyikapi Aspek-Aspek yang Berpengaruh pada Seni Budaya Sunda

Solusi BARATA Menyikapi Aspek-Aspek yang Berpengaruh pada Seni Budaya Sunda

BANDUNG – Saat ditemui disela rapat kerja bersama anggota DPRD Kota Bandung perihal mengangkat seni budaya Sunda, Sigit Iskandar memaparkan ulasan pembahasan pada reporter.

Apa yang dibahas dalam rapat kerja sangat sambung sinambung dengan area wilayah kerja Sigit Iskandar sebagai Kabid Kesenian dan Budaya Sunda Disbudpar Kota Bandung.

Sejalan perkembangan zaman dengan laju modernisasi teknologi serba cepat, taktis, dinamis hingga revolusi digital IT 4.0 harus ada upaya untuk mempertahankan seni budaya Sunda tetap eksis, tetap ada bahkan lebih menggeliat lagi dan jangan sampai tergerus zaman.

Idiom kita “ikuti zamanmu, jgn tinggalkan budayamu” artinya kita hrs ikuti zaman ini dgn segala modernisasinya, gadget-nya, digital-nya, kreativitasnya atau semua hal lainnya kemudian semua hal tersebut kita sinergikan dengan budaya kita sehingga medernisasi itu tetap terikat dengan JATIDIRI kita.

Sigit faham betul atas aspek-aspek lain yang menjadi kendala yang memengaruhi minat pada seni budaya Sunda lainnya yaitu kebijakan, karakter warga dan keadaan kotanya.

“Hal tersebut diatas sebetulnya bisa diantisipasi dengan program BARATA alias Bandung Karasa Nyata, dimana mengangkat potensi kearifan lokal menyangkut seni budaya Sunda untuk dikembangkan secara profesional dan proporsional” paparan Sigit.

“Agar ada hasilnya dirasakan nyata oleh warga kota Bandung, turis lokal hingga manca negara merasakan apa yang disuguhkan hingga melekat diingatannya bahkan tergugah untuk kembali lagi alias ‘terkesan’ dengan kesenian budaya Sunda yang disajikan” tambah Sigit.


Tentunya seni budaya Sunda juga harus mampu beradaptasi dan berkolaborasi dengan perkembangan teknologi zaman, karakter warga dan keadaan kota.

Dimana sekarang sudah masa revolusi teknologi IT 4.0, mau tidak mau seni budaya Sunda harus dipadukan dan dikolaborasikan hingga menghasilkan semacam sentuhan kontenporer dalam drama, tari, pahat, patung, lukis dan operet, ada musik karinding, musik etnik hingga alternatif angklung.

Karakter warga yang relatif plural maka dibutuhkan sajian yang berbeda, tidak monoton, banyak pilihan alternatif dan tidak membosankan.

Dan dari aspek keadaan kota Bandung yang hampir kegiatan berjalan 24 jam maka dibutuhkan kontribusi bagi hotel, cafe, diskotik, swalayan hingga tempat hiburan dan keramaian yang lainnya menyajikan seni budaya Sunda.

Hingga aspek kebijakan atas kebiasaan adab dan adat istiadat, Perda dan aturan hukum yang saling bersesuaian dan saling mendukung.

“Tentunya semua hal diatas tetap menonjolkan seni budaya Sunda itu sendiri yang khas, unik, kemasan menarik dan mempunyai nilai kompetitif” imbuh Sigit.

“Dukungan semua pihak dari pelaku seni, seniman, budayawan, padepokan, sanggar, paguyuban, para pelaku pembuat kebijakan, pemerintah daerah dan semua unsur elemen masyarakat, mari kita bahu membahu menjaga, merawat dan melestarikan seni budaya Sunda dimulai dari diri kita, lingkungan hingga mancanegara” ajak Sigit.

“Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau peduli” pungkasnya. (Iwan Rohman)

admin

admin