Pembunuhan Bocah di Temanggung, Dianggap Titisan Genderuwo, Ini Faktanya

Pembunuhan Bocah di Temanggung, Dianggap Titisan Genderuwo, Ini Faktanya

Palangkanews.co.id | Temanggung, 22/5/2021 Belakangan ini banyak media memberitakan tentang kasus pembunuhan seorang bocah perempuan di Temanggung Jawa Tengah. Pasalnya, anak berusia tujuh tahun tersebut tewas di tangan orang tuanya sendiri dan dibantu tetangga dengan dalih hendak melakukan ritual ruqyah.

Jasad (A) bocah perempuan tersebut, baru ditemukan 4 bulan setelah kejadian dengan kondisi yang mengenaskan. Berikut adalah beberapa fakta mengenai kasus pembunuhan bocah di Temanggung tersebut

(1). Dibilang Nakal Karena Kerasukan Genderuwo

Peristiwa naas ini bermula dari (A) yang dianggap nakal oleh orang tuanya. (A) dan orang tuanya bertempat tinggal di Desa Congkrang, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Bocah perempuan itu masih berusia 7 tahun dan bersekolah di SD.



Setelah berdiskusi dengan tetangganya yang berprofesi sebagai dukun, sang tetangga menyebut bahwa (A) kerasukan genderuwo sehingga berlaku nakal. Orang tua korban pun mempercayai omongan tetangganya yang terkenal sebagai orang pintar di kampungnya

(2). Menjalani Ritual Ruqyah

Tetangga korban yang berinisial H & B itu menyebut bahwa untuk mengusir genderuwo yang ada di tubuh korban, harus dilakukan ritual ruqyah. Menurut keterangan saksi, H & B menyuruh (A) untuk memakan bunga mahoni dan cabai.

Kedua orang yang mendalami praktik ilmu spiritual itu berkata apabila korban tidak merasakan pahit di lidahnya setelah memakan bunga mahoni, maka berarti benar ia adalah anak genderuwo.

Rupanya korban mengaku bahwa ia tak merasakan pahit. Orang tua (A) pun semakin percaya bahwa (A) benar dirasuki genderuwo dan memohon agar H & B menyembuhkan anaknya.

H & B lalu kemudian mengusulkan agar orang tua (A) menenggelamkan anak perempuan tersebut ke dalam bak mandi, karena hal tersebut diyakini efektif untuk mengusir genderuwo. Mereka kemudian memasukkan anaknya sebanyak 4 kali ke dalam bak mandi. Pada percobaan keempat, karena terlalu lama masuk ke dalam air, korban pun akhirnya pingsan.

(3). Mayat Disimpan, Dibilang akan Hidup Lagi

Setelah mendapati anaknya tidak sadarkan diri, H & B berkata kepada orang tua (A) bahwa korban cukup didiamkan saja. Mereka menyebutkan nanti (A) akan bangun atau hidup lagi, lalu sifat nakalnya akan hilang karena genderuwonya sudah pergi.

Tanpa rasa curiga, orang tua korban pun mengiyakan proses ritual tersebut dan menyimpan (A) yang sudah menjadi mayat di dalam kamar. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Januari. Setelah 4 bulan berlalu, orang tua korban rutin membersihkan jasad anaknya agar tidak berbau menyengat dan tetangga pun tak ada yang curiga.

(4). Keluarga Curiga Sang Anak Tak Pernah Terlihat Lagi

Awal mula terungkapnya kasus ini adalah ketika keluarga korban, yaitu Bude dari (A) yang berinisial S bertanya kepada kakeknya mengapa (A) sudah lama tidak terlihat. Sang kakek pun juga curiga karena selama 4 bulan cucunya itu sudah tak pernah datang lagi ke tempatnya.

Keduanya pun mendatangi kediaman orang tua (A), lalu terkejut ketika menemukan jenazah (A) di dalam kamar dengan kondisi yang mengenaskan. Jasadnya sudah mengering dan berupa kerangka dibalut tulang saja.

Bude dan kakek (A) langsung melaporkan penemuan mayat bocah perempuan ke Kepala Desa Bajen kemudian diteruskan ke kepolisian.

(5). Empat Tersangka Sudah Ditangkap

Polres Temanggung sudah menangkap empat orang yang kini berstatus tersangka dalam kasus pembunuhan bocah perempuan. Mereka adalah M (43) ayah korban, S (39) ibu korban, serta H & B yang merupakan tetangganya. Rencananya para tersangka akan menjalani pemeriksaan kejiwaan.

(6). Sang Dukun terima upah jutaan

Polisi mengungkap orang tua korban telah membayar jutaan Rupiah untuk jasa konsultasi kepada dukun. Uang itu diberikan selama beberapa kali selama proses konsultasi.

“Dari hasil konsultasi antara si orang tua terhadap dukun, orang tua ini sudah memberikan beberapa uang walaupun jumlahnya tidak sama setiap saat. Kurun waktu dari kejadian sampai kemarin informasi yang kita dapatkan sudah terkumpul sekitar Rp. 6 juta lebih. Jadi apabila diakumulasikan waktu kejadian sampai kemarin sebelum kita ungkap itu terkumpul kurang lebih sekitar Rp. 6 jutaan,” terangnya.

Berdasarkan keterangan dari Kapolres Temanggung AKBP Benny Setyowadi, empat orang tersangka tersebut akan dijerat masing-masing, untuk Kedua orang tua korban yakni M (43) dan istrinya S (39) dengan pasal kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Kemudian asisten dukun B dijerat dengan Pasal 76 c juncto Pasal 80 ayat 3 UU No 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, subsider Pasal 351 ayat 3 KUHP. Sementara itu untuk dukun berisial H disangkakan Pasal 55 juncto Pasal 76 c junto Pasal 80 ayat 3 UU No 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, subsider Pasal 351 ayat 3 KUHP.

Selain itu juga mereka akan menerima ancaman hukuman 15 tahun penjara atau denda Rp. 3 miliar sesuai dengan Pasal 44 UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Kasus pembunuhan bocah perempuan di Temanggung ini cukup memprihatinkan dan dinilai bisa disebabkan oleh rendahnya edukasi kedua orang tua korban dan lingkungannya. Padahal jika dilihat dari kacamata klinis, perilaku nakal yang ditunjukkan oleh A bisa saja disebabkan oleh kondisi tertentu, bukan oleh pengaruh hal-hal gaib. Oleh karena itu, sebagai orang tua seharusnya dapat dengan bijak mengambil sebuah keputusan terutama yang berkaitan dengan keselamatan anaknya sendiri.

Pewarta : Puji S

Redaksi Palangka News