MENGENAL LEWU HANTE atau RUMAH BETANG

MENGENAL LEWU HANTE  atau RUMAH BETANG

Palangkanews.co.id – Dinas Pariwisata mempromosikan wisata di daerahnya dengan berbagai budaya yang dapat menarik wisatawan Domestik dan manca negara ,Merupakan tempat bagi suku dayak , lewu hante atau lebih dikenal dengan rumah betang merupakan lambang dari kekompakan dan kebersamaan yang tergabung dalam satu tempat. Lewu Hante merupakan salah satu bentuk arsitek tradisional yang hanya ada di Kalimantan dan merupakan sentral segala kegiatan bagi masyarakat dayak. 17/01/2021

Menurut Koentjaraningrat ( 1997) mendefinisikan arsitektur tradisional sebagai pencerminan jaman tertentu yang mempunyai ciri khas dan asli daerah tersebut, dan sudah menyatu secara seimbang, serasi dan selaras dengan masyarakat, adat istiadat, dan lingkungan.

Lewu Hante selalu berbentuk panggung dan panjang yang bertujuan:

Menghindari rumah dari luapan air, karena banyak Rumah Betang Suku Dayak yang di bangun di pinggir aliran sungai.
Untuk melindungi penghuninya dari binatang buas.
Untuk melindungi penghuninya dari musuh

Memiliki ukuran mencapai panjang 150 meter, lebar 30 meter, dan tinggi tiang sekitar 3 meter. Dengan ukurannya yang sedemikian besar, rumah betang mampu menampung 10 sd 15 keluarga dengan jumlah populasi antara 100 sd 150 orang.

Pada umumnya Rumah Betang Suku Dayak dibuat hulunya menghadap timur dan hilirnya menghadap barat. Ini merupakan sebuah symbol bagi masyarakat dayak.

Hulu yang menghadap timur atau matahari terbit memiliki filosofi kerja keras yaitu bekerja sedini mungkin.

Sedangkan hilir yang menghadap barat atau matahari terbenam memiliki filosofi, tidak akan pulang atau berhenti bekerja sebelum matahari terbenam.

ciri-ciri spesifik Rumah Betang Suku Dayak

Arah hulu rumah menghadap Timur dan Hilir menghadap Barat.

Tinggi rumah dari tanah antara 3 (tiga) meter hingga 5 (lima) meter.

Panjang rumah mulai dari 30 meter hingga 150 meter, lebar sekirat 30 meter.

Dinding terbuat dari kayu berarsitektur jengki dengan atap pelana memanjang

Ruangan dibagi menjadi :

Sado : pelataran merupakan jalur lalu-lalang penghuni rumah atau tempat melakukan aktifitas seperti tempat musyawarah adat, tempat menganyam, tempat menumbuk padi dan lain-lain.

Padong : yaitu ruang keluarga berdimensi antara 4×6 meter. Biasanya masing-masing kepala keluarga memiliki satu padong yang digunakan untuk berkumpul makan, minum, menerima tamu dan lain-lain.

Bilik : dipergunakan untuk tempat tidur. Bilik hanya dipisahkan dengan kelambu saja, baik bilik suami istri, bilik anak laki-laki, maupun bilik anak perempuan.

Dapur : Ruang yang terakhir adalah dapur, dalam satu rumah memiliki satu dapur yang biasanya terletak dibelakang.

Memiliki 1 tangga dan satu pintu masuk. Biasanya terdapat sebuah patung yang diletakkan didekat pintu masuk, patung itu sendiri merupakan patung persembahan bagi nenek moyang mereka. Sebelum diletakkan di depan pintu biasanya patung telah melalui sebuah proses upacara adat.

Bagian tengah rumah biasanya dihuni oleh tetua adat.

Dinding dan tiangnya memiliki ukiran yang mengandung falsafah hidup suku dayak bersatu saling melindungi, menghargai menghormati hak hak manusia dan rukun dalam satu rumah Betang, suka musyawarah dalam mengambil keputusan, saling kasih sayang, damai serta suka gotong royong
Ini sifat suku suku pedalaman Dayak Kalteng pada umumnya Dayak Borneo.

Pewarta. : Elsa pknews Bartim
Sumber. : Artikel sejarah Dayak

admin

admin