Kopi Tempur Olahan BumDes Berpotensi Tembus Pasar Global

Kopi Tempur Olahan BumDes Berpotensi Tembus Pasar Global

palangkanews.co.id || Jepara, 20/11/2021 Bupati Jepara Dian Kristiandi mengajak Stakeholder Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Tempur Kecamatan Keling lebih optimal menggarap komoditas kopi yang dihasilkan warga berpotensi menembus pasar Nasional maupun global.

Hal ini disampaikan Bupati Jepara saat melihat proses Roasting kopi di salah satu produsen kopi Desa Tempur Kecamatan Keling Kabupaten Jepara. Jumat (19/11/2021)

“Potensi kopi Desa Tempur ini sangat besar. Per tahun saja produksinya bisa mencapai 500-700 ton kopi kering. Untuk itu, BUMDes harus bisa mengambil peluang ini dan digalakkan dalam memberdayakan masyarakat,” kata Bupati Andi.

Dalam kesempatan itu, Andi juga meminta BUMDes membeli berbagai alat atau mesin untuk menunjang proses produksi kopi hingga sampai pada proses pemasaran. “Mesin pengering, penggoreng hingga mesin lainnya harus punya untuk mendukung percepatan produksi,” lanjutnya.

Politisi PDIP itu menambahkan, pihaknya siap untuk membantu menjembatani untuk pengadaan mesin dan fasilitas pendukung lainnya melalui dana CSR perusahaan yang ada di Jepara. Selain itu, pihaknya juga siap memfasilitasi produsen kopi dengan pelatihan hingga sampai pada pemasaran produknya.

“nanti akan kita bantu melalui CSR perusahaan. Harus dioptimalkan dengan betul kopi tempur ini,” imbuh Andi.

Lebih lanjut Bupati Andi juga mengapresiasi kreatifitas produk yang dihasilkan dari kopi ini. Selain diolah menjadi bubuk kopi siap saji, kopi juga dibuat untuk produk lain seperti parfum mobil, gelang hingga kalung.

“Saya kira kreatifitasnya sudah sangat baik tidak hanya untuk minuman, tetali juga produk yang lain. Ini harus dikembangkan terus,” tandasnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, memang masyarakat Desa Tempur tidak lagi menjual kopi dalam bentuk biji. Masyarakat sudah banyak yang menjual kopi dalam bentuk bubuk.

Sementara itu, Khusnul Ulum, salah satu pengusaha Kopi Tempur, menyebut sudah ada lebih dari tiga puluh warga yang menjadi produsen kopi bubuk. Penjualannya Kopi Tempur pun sudah menyentuh pasar nasional.

Selain dari tangan ke tangan, Khusnul dan pengusaha lainnya memanfaatkan media sosial untuk menjual Kopi Tempur. Pola penjualan dan keuntungan yang diraih membuat warga lainnya ikut memproduksi kopi bubuk.

“Di sini belum banyak pengusaha yang punya alat lengkap. Baru beberapa pengusaha saja yang punya. Jadi itu kebutuhan yang paling utama,” jelas Ulum.

(Puji S)

Redaksi

Redaksi