Faba Bukan Lagi Katagori Limbah B3, Dapat Dimanfaatkan Untuk Bahan Baku Sektor Konstruksi.

Faba Bukan Lagi Katagori Limbah B3, Dapat Dimanfaatkan Untuk Bahan Baku Sektor Konstruksi.

Palangkanews.co.id | Semarang, 4/3/2021 Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) mendorong pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) atau limbah padat yang dihasilkan dari proses pembakaran batubara pada pembangkit listrik tenaga uap PLTU, boiler, dan tungku industri untuk bahan baku atau keperluan sektor konstruksi.

Hal ini menyusul telah diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) 22 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang merupakan turunan dari UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, dimana didalamnya terdapat pengaturan tentang Pengelolaan Limbah B3 dan Non B3 dari kegiatan pembakaran batubara Fly Ash Bottom Ash (FABA).

Deputi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Nani Hendiarti, mengatakan penggunaan FABA untuk berbagai keperluan harus tetap menerapkan prinsip kehatian-hatian setelah adanya dorong dan permintaan berbagai pihak untuk pengecualian FABA dari daftar limbah B3.

Menurut Nani penyusunan PP 22 Tahun 2021 yang dikawal oleh KLHK membutuhkan proses yang cukup panjang dan akhirnya mengeluarkan FABA dari daftar B3. Adanya regulasi baru itu, kini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang banyak menghasilkan FABA sudah bisa begerak cepat dalam menyiapkan skenario dan road map atau peta jalan pemanfaatannya.

Dia menyampaikan bahwa pertemuan ini sangat penting dan bisa dikatakan sebagai langkah awal yang penuh semangat untuk sama-sama memanfaatkan limbah FABA yang ada saat ini. Konkritnya, dalam kegiatan ini akan didorong kolaborasi serta penyusunan peta jalan pemanfaatan FABA yang ujungnya ada semacam program atau produk percontohan atau pilot project .

Sementara itu, Penasihat Khusus Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Yohanes Surya, menyampaikan lewat Lokakarya Pemanfaatan Faba (Fly Ash Bottom Ash) diharapkan agar ada tindakan nyata terkait pemanfaatan FABA itu sendiri di Indonesia. Pasalnya, selama ini FABA sudah banyak digunakan di bidang konstruksi, misalnya geopolimer dan lainnnya.

Yohanes mengungkapkan selama ini FABA masuk dalam kategori limbah beracun sehingga sangat sulit untuk dimanfaatkan keberadaanya oleh penghasil limbah itu sendiri yakni PLTU. Padahal biaya untuk pengelolaan limbah jenis ini terbilang sangat besar. Keluarnya PP 22 Tahun 2021 akan menjadi kabar baik karena FABA sudah bisa dimanfaatkan.

Di samping itu, dosen Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Prof. Januarti Jaya Ekaputri, menjelaskan bahwa hingga kini sudah ada penelitian yang final terkait pemanfaatan FABA untuk beton sebagai bahan pengganti semen atau pasir dari level laboratorium serta kerja sama dengan industri.

Prof. Januarti memandang setelah FABA dikeluarkan dari daftar limbah B3 pasca terbitnya PP 22 Tahun 2021 beberapa waktu lalu, yang paling penting diselesaikan ialah terkait regulasi atau aturan turunannya dari pemerintah terkait pemanfaatan FABA yang dimaksud. Pemerintah lewat kementerian terkait harus segera mengeluarkan aturan atau secaman Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan Fly Ash Bottom Ash (FABA).

“Harapan saya sebagai peneliti, kita harus punya pusat riset tentang FABA, kerena Indonesia potensi batubaranya banyak. Jadi sebagai pusat informasi dan pusat ilmu pengetahuan, sebaiknya ada pusat riset bautbara termasuk pemanfaatan limbahnya,” sambungnya.

Senada dengan itu, dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. Agus mengungkapkan bahwa FABA bisa berfungsi sebagai sumber daya bahan baku berbagai produk dan punya potensi ekonomi. Apalagi Indonesia dikenal memiliki banyak FABA hingga saat ini.

Prof. Agus menerangkan estimasi biaya yang diperlukan setiap 10 persen pembakaran FABA bisa mencapai Rp 500.000 per ton FABA. Namun setelah keluar PP 22 Tahun 2021 itu maka estimasi biaya ini sudah berkurang.

Dia menyebutkan pada 2021 estimasi FABA yang dimiliki Indonesia mencapai 17,5 juta ton. Jika FABA masih masuk dalam daftar limbah B3 maka biaya yang diperlukan untuk pengelolaannya akan sangat besar dan setelah adanya PP 22 Tahun 2021 ‘ongkos pengelolaan’ menjadi relatif lebih kecil.

Dikatakannya juga pemanfaatan FABA bisa bermacam-macam dan ini sesuai kebutuhan yang di lapangan, terutama untuk industri konstruksi, baik jalan maupun lainnya. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk ekstraksi material maju.

“Jadi FABA punya potensi sebagai sumber material-material yang saat ini sangat dibutuhkan dalam berbagai industri strategis. Yang lagi rame mobil listrik, baterai, dan seterusnya,” tutupnya.

Puji Sumono
Kaperwil Jateng

Redaksi Palangka News