Dampak Limbah Sawit, Masyarakat Rembang Mengadu ke Presiden

Dampak Limbah Sawit, Masyarakat Rembang Mengadu ke Presiden

Palangkanews.co.id | Rembang – 16/2/2021 Masyarakat Rembang yang terdampak limbah sawit jenis B3 yang sudah berbulan-bulan menggunung di Desa Jatisari, kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang mengadu kepada Presiden Jokowi. Melalui salah satu wakilnya yang bernama Lilik Yuliantoro, melakukan aksi jalan kaki dengan rute Rembang-Jakarta.

Lilik berangkat dari Rembang pada Rabu, 20 Januari lalu. Dengan membawa bendera merah putih dan mengalungkan kertas bertuliskan ‘Aksi Jalan Kaki Rembang-Jakarta, Tolak Puluhan Ribu Ton Limbah B3 Rembang-Jawa Tengah’. Lilik dijadwalkan akan tiba di Jakarta dalam 25 hari. Sebelum menemui Presiden Jokowi di Jakarta Lilik dan rombongan terlebih dahulu akan mampir ke kantor Gubernur Jawa Tengah untuk menyampaikan aspirasi mereka. Pada Senin, 25 Januari 2021 lalu Lilik tiba di Semarang dan langsung menemui Ganjar di kantornya.

“Ini aksi saya sebagai kepedulian pada warga Rembang yang terdampak limbah B3. Limbah itu didatangkan dari luar Rembang dan sangat berbahaya serta mengganggu masyarakat,” kata Lilik di kantor Gubernuran.

Lilik mengaku sudah mengunjungi lokasi pembuangan limbah, yakni di Desa Jatisari, Kecamatan Sluke Rembang. Di lokasi itu, bau busuk terasa menyengat dan sejumlah tanaman milik petani di sekitarnya mati terdampak limbah tersebut.

“Peristiwa itu sudah terjadi sejak April 2020 lalu, tapi sampai sekarang belum ada tindakan. Maka saya melakukan aksi ini untuk membantu masyarakat Rembang dan meminta agar segera diselesaikan,” ucap lilik.

Lilik dalam pertemuannya dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta Lilik dan kawan-kawannya mengurungkan niat berjalan kaki sampai Jakarta. “Enggak usah sampai Jakarta, nanti biar kami yang menangani. Tapi kalau njenengan (Anda) nekat ya monggo (silahkan),” ujar ganjar.

Ganjar juga menyampaikan kasus pembuangan limbah juga sudah ditangani pihak kepolisian. Ia meminta masyarakat percaya dengan penanganan dari pihak berwajib.

Pencemaran limbah yang terjadi di Rembang berawal dari kapal tongkang yang merapat di Pelabuhan Rembang, Jawa Tengah, April 2020. Kapal yang bertolak dari Pelabuhan Kuala Tanjung, Riau, itu membawa limbah industri sawit, berupa Spent Bleaching Earth (SBE).

Material limbah padat ini dihasilkan dari proses penyulingan minyak sawit dan bahan oleochemical lain. Dari penelusuran, SBE telah dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya beracun (B3), berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 101/2014.

Pihak UPP Kelas III Rembang selaku pengelola pelabuhan mengakui kapasitas mereka hanya memeriksa kelengkapan administrasi terkait kelengkapan kapal dan muatannya saja dan untuk kegiatan yang terjadi diluar pelabuhan itu diluar tanggung jawab mereka. Menurut UPP Kelas III Rembang, perusahaan pengirim kapal adalah PT. Asahan Mas Nabati dan tujuan berlabuh Pelabuhan Rembang dengan PBM (Perusahaan Bongkar Muat) PT. PBM Tirta Kencana.

Kapal bongkar di Pelabuhan Rembang. Selanjutnya muatan dipindahkah ke dalam truk khusus dan bergerak menuju Dusun Nganguk, Desa Gandrirojo, Kecamatan Sedan, Rembang. Muatan padat berbentuk seperti tanah itu lalu dibuang di lahan milik satu perangkat desa. Sebelum berhasil menurunkan seluruh muatan, warga memprotes aktivitas itu. Selanjutnya, truk menurunkan sisa muatan di tempat lain, yaitu di Desa Sudan, Kecamatan Kragan, Rembang Jawa Tengah.

Boma Subkhan, dari Forum Masyarakat Peduli Lingkungan Rembang (FMPLR) menerangkan, aktivitas membuang limbah berbahaya itu ternyata masih berlanjut. Pada bulan yang sama, kapal tongkang kedua berlabuh di Pelabuhan Rembang membawa material limbah. Kembali aktivitas itu ditentang sejumlah warga, yang menuntut agar pembuangan limbah setop. Mereka menuntut material yang sudah terlanjur diturunkan agar dimuat kembali. Penerima kuasa berjanji mengambil limbah yang sudah diturunkan dalam jangka waktu selambat-lambatnya tiga bulan.

Selanjutnya, truk bergerak ke tempat lain dan membuang sisa material ke sebuah lahan bekas tambang galian C di Desa Sendang Mulyo, Kecamatan Sluke, Rembang. Pada Mei, kembali terjadi aktivitas bongkar muat limbah di Pelabuhan Rembang, yang berasal dari tongkang bermuatan SBE. Muatan lalu dibuang di sebuah lahan di Desa Jatisari, Kecamatan Sluke, Rembang.

Data yang didapatkan FMPLR, sekitar 27.000 ton limbah dibuang di tiga kecamatan, yaitu di Kragan, Sluke, dan Sedan.

Warga kini mengeluhkan tanaman di sekitar area pembuangan mati. Begitupun ternak yang sempat meminum air yang tercemar limbah. Mereka lalu berkirim surat ke DPRD Rembang mengadukan masalah ini.Limbah industri sawit dibuang di Pulau Jawa seperti terjadi di Rembang, ternyata bukan pertama kali terjadi. Dari penelusuran, kasus pembuangan SBE pernah terjadi di sejumlah titik di sekitar Rumah Susun Marunda, Jakarta Utara. Warga, awal Januari 2019 mengeluhkan, bau menyengat timbul dari gundukan limbah itu. Selain berbau, limbah juga mudah terbakar.

Pemerintah tengah mengkaji untuk mengecualikan limbah ini jadi limbah biasa. Dalam PP Nomor 110/2014 tentang Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), SBE kategori sebagai limbah B3 kategori bahaya dua.

Kalangan industri bersemangat melobi pemerintah untuk mengubah aturan yang mengkategorikan sebagai limbah berbahaya dan beracun.

Seiring jumlah produksi minyak sawit Indonesia yang terus meningkat, begitupun dengan limbah SBE ini. Kalau pada 2017, produksi SBE Indonesia mencapai 184.162 ton, pada 2018 jadi 637.476, dan 2019 bertambah jadi 778.894 ton. Selain masih mengandung minyak, SBE juga ada pasir silika yang kalau terbawa angin debu bisa berpengaruh terhadap kualitas kesehatan masyarakat. Selain minyak, limbah SBE mengandung logam berat. Bukan hanya berbahaya bagi manusia, limbah SBE juga mencemari tanah, dan air.

Pewarta : Puji SumonoKaperwil Jateng.
Sumber. : Liputan pknews Rembang

Redaksi Palangka News