Dampak Larangan Mudik 2021 Bagi Perusahaan Otobus Di Kudus

Dampak Larangan Mudik 2021 Bagi Perusahaan Otobus Di Kudus

Palangkanews.co.id | Kudus, 1/5/2021 Perusahaan Otobus (PO) Haryanto yang berada di Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus Jawa Tengah kena imbasnya dengan larangan mudik tahun 2021 dari Pemerintah. Belasan armada terlihat terpakir di garasi, ada yang diperbaiki mesinnya maupun ada juga yang dicat ulang. Sedangkan di garasi bagian barat, terlihat beberapa bus berwarna biru tapi belum ada gambar Menara Kudus dan tulisan Haryanto. Bus tersebut merupakan armada baru yang dibeli PO Haryanto di masa pandemi.

H. Haryanto, pemilik PO Haryanto mengatakan, pandemi setahun terakhir di Indonesia sangat memukul semua sektor usaha. Tak terkecuali usaha perusahaan otobus (PO). Ia mengaku PO Haryanto juga sempat terkena imbasnya, penumpang sepi sehingga pendapatan perusahaan berkurang drastis. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama. Kemudian bangkit dan malah di masa masih pandemi PO Haryanto mampu menambah armada.



Kami bersyukur mampu bangkit cepat di masa pandemi. Meskipun jumlah penumpang tidak sebanyak sebelum ada pandemi. Setidaknya kita punya pemasukan. Bahkan di masa pandemi, PO Haryanto mampu menambah 50 armada. Yang sudah datang itu ada 25 unit, serta kurangannya akan datang beberapa pekan lagi,” ujar Haryanto Rabu (21/4/2021).

Haryanto mengungkapkan, armada yang dibeli tersebut bukanlah bus baru dari dealer. Namun, bus bekas armada perusahaan otobus lain yang terdampak pandemi. Pembelian armada-armada tersebut tujuannya untuk menolong perusahaan otobus bersangkutan yang mengalami kerugian pada masa pandemi. Mungkin mereka butuh uang untuk menambal kerugian atau juga untuk membayar hutang.

Sebab kata dia, di masa pandemi memang banyak perusahaan otobus di Indonesia yang merugi bahkan gulung tikar. Mereka pun terpaksa menjual armadanya. Namun, menjual bus di masa pandemi juga tidak semudah membalikan tangan. Karena jarang yang berminat untuk membeli bus. Sebab ekonomi sedang susah sedangkan jumlah penumpang masih belum sebanyak dulu sebelum ada pandemi.

“Kalau kami beli armada memang niatnya menolong. Nantinya armada yang kami beli itu, kita perbaiki, bisa untuk menambah trayek, bisa juga nanti kalau ekonomi sudah pulih dan ada yang berminat, serta harganya cocok bisa kita jual lagi,” ungkap suami penyanyi Nurhana tersebut.

Tak hanya PO Haryanto saja, perusahaan otobus di Kudus lainnya yakni PO Shantika juga menambah armada lagi di masa pandemi, meski dengan alasan yang berbeda. Ditemui di garasi PO Shantika yang berada di Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Priyo Kelana (40) selaku Manajer Operasional PO Shantika membenarkan, bahwa di masa pandemi PO Shantika menambah delapan armada lagi.

“Di masa pandemi PO Shantika memang beli bus baru. Menjelang Lebaran tahun ini ada enam unit bus yang dibeli dan empat bulan yang lalu dua unit. Jadi di masa pandemi ada delapan armada baru yang dibeli PO Shantika,” ujar pria yang akrab disapa Priyo tersebut.

Priyo menjelaskan lebih lanjut, penambahan armada tersebut merupakan kebijakan perusahaan, yang mana di setiap tahunnya atau tepatnya menjelang lebaran PO Shantika akan menambah armada baru. Oleh sebab itu, meski di masa pandemi PO Shantika tetap membeli armada baru. Sedangkan jumlah armada baru yang dibeli bisa berbeda setiap tahunnya.

“Setiap tahun PO Shantika pasti beli bus baru. Jumlah armada yang dibeli disesuaikan dengan keuangan, tapi biasanya minimal empat unit,” bebernya.

Meski menambah armada baru, lanjutnya, bukan berarti PO Shantika tak terdampak oleh pandemi. Ia mengaku, sejak ada pandemi penghasilan PO Shantika merosot tajam. Jumlah penumpang turun drastis hingga 75 persen. Namun, untungnya owner dari PO Shantika yakni Haji Suhartono punya usaha lain yaitu sebagai kontraktor. Sehingga hasilnya bisa untuk mensubsidi keuangan di PO Shantika di masa pandemi.

“Jadi kayak subsidi silang gitu. Untungnya big bos kami punya usaha lain, kalau tidak ya bisa pusing juga,” tandas Priyo.

Dia menuturkan, saat ini PO Shantika ada sekitar 75 unit armada. Karena dampak pandemi penumpang turun drastis. Agar para kru, sopir dan kondektur punya penghasilan merata, perusahaan terpaksa harus menggilir waktu operasi armada dan para kru yang bekerja.

Kebijakan tersebut terpaksa kami ambil. Tujuannya untuk menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK), serta agar para kru tetap punya penghasilan sama rata. Supaya tidak ada rasa iri satu sama lain,” jelasnya.

Disinggung tentang pelarangan mudik lebaran tahun 2021, Priyo berharap kebijakan tersebut dikaji ulang. Sebab selama pandemi perusahaan otobus sudah sangat menderita. Sedangkan lebaran adalah momen perusahaan otobus untuk meraup banyak penghasilan. Dia berharap, kalau mudik dilarang, pulang kampung diperbolehkan.

Kami berharap kebijakan itu dikaji ulang. Kalau mudik dilarang semoga saja pulang kampung diperbolehkan,” kata Priyo.

Mahmudun Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) organisasi angkutan darat (Organda) Kabupaten Kudus mengatakan, pandemi telah membuat usaha transportasi carut marut, khususnya perusahaan otobus. Banyak perusahaan otobus di Kudus itu ibaratnya keuangannya kembang kempis akibat pandemi. Namun, ia juga ikut senang karena ada perusahaan otobus di Kudus yang mampu survive, bahkan bisa menambah armada di kala pandemi.

“Tentunya saya senang, PO Haryanto dan PO Shantika menambah armada saat pandemi. Itu menandakan perusahaan tersebut mampu survive meski keadaan ekonomi lagi sulit,” ujar Mahmudun.

Puji Sumono
Kaperwil Jateng

Redaksi Palangka News